Blok Rehoboth, Oasis Toleransi di Wilayah Jawa Barat
Dalam
satu berita yang saya baca, saya melihat satu berita yang cukup menyedihkan. Menurut
survei yang dilakukan oleh SETARA Institute,
Provinsi Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan jumlah
kasus intoleransi paling tinggi di Indonesia[1]. Tentu hal ini adalah satu hal yang menyedihkan
bagi kita semua yang tinggal di wilayah Jawa Barat. Jawa Barat, yang dikenal
sebagai bumi priangan; tempat turunnya para dewi ke bumi; karena keindahan
alamnya, ternyata bukanlah tempat yang indah untuk menjadi tempat tinggal dari keberagaman
agama.
Akan
tetapi, bukan berarti Provinsi Jawa Barat tidak memiliki harapan untuk langkah
kedepannya. Masih ada generasi-generasi muda kita yang memiliki keprihatinan
terhadap maslaah toleransi di wilayah Jawa Barat. Seperti yang terdapat dalam
acara Youth Interfaith Camp ke-10
yang diadakan di wilayah Blok Rehoboth, Tamiyang, Indramayu, Jawa Barat.
Dalam
kegiatan Youth Interfaith Camp ini,
kami para muda-mudi melakukan observasi kepada kegiatan masyarakat di wilayah
Blok Rehoboth. Kegiatan observasi yang kami lakukan bertujuan untuk mengetahui
apa kunci dari masyarakat Blok Rehoboth untuk menjaga toleransi di kampungnya. Blok
Rehoboth sendiri dikenal sebagai satu desa di wilayah Tamiyang yang memiliki
tingkat toleransi yang sangat tinggi. Hal ini terlihat dari bangunan Gereja GKP
Tamiyang yang berdiri bersebelahan dengan Masjid NU Rehoboth. Hal ini tentunya
menjadi hal yang luar biasa. Di tengah berita-berita yang sering kita dengar
mengenai penutupan tempat ibadah yang dilakukan oleh ormas-ormas agama
tertentu, ternyata kita masih dapat menemukan penghormatan terhadap agama lain
yang dilakukan oleh masyarakat Blok Rehoboth.
Dari hasil observasi tersebut,
saya menemukan beberapa hal yang membuat masyarakat Blok Rehoboth untuk tetap
menjaga toleransi di kampungnya. Dalam sesi sharing
bersama Bapak Pendeta Johanes, Pak Ujang dan Pak Haji sebagai pengurus DKM
Masjid, saya mendapatkan fakta bahwa kerukunan beragama di wilayah Rehoboth
tercipta karena praktek toleransi itu sudah diajarkan sejak kecil. Masyarakat
di wilayah Rehoboth telah hidup dari keberagaman sejak lahir ke dunia bahkan
hingga meninggalkan dunia. Karena dekatnya mereka dengan keberagaman, mereka
pun pada akhirnya menumbuhkan perasaan toleransi tersebut. Perasaan toleransi
itu pun pada akhirnya menjadi budaya di kampung ini karena sudah terjadi dan dilakukan
sejak lama.
Selain itu, dari hasil
pengamatan saya bersama dengan teman-teman melalui Pak Muhammad Amin, salah
satu warga asli Blok Rehoboth, toleransi itu juga terbentuk karena adanya
perkenalan. Jika kita sudah mengenal perbedaan-perbedaan yang terdapat di
sekitar kita, perasaan toleransi pun pasti akan muncul karena kita sudah mengenal
apa keragaman yang ada di sekitar kita. Toleransi di Blok Rehoboth juga
didukung oleh adanya kebiasaan-kebiasaan masyarakat di wilayah tersebut.
Menurut penuturan Pak Amin, salah satu contoh dari kebiasaan tersebut adalah silahturahmi
sewaktu hari raya besar keagamaan. Pada hari raya natal, masyarakat muslim akan
mengunjungi tetangga dan saudaranya yang kristiani untuk beramah-tamah. Begitu
juga saat lebaran, masyarakat kristiani akan mengunjungi tetangga dan sanak
saudaranya untuk beramah-tamah. Selain itu, saat hari raya natal, masyarakat
muslim akan membantu parker jemaat Gereja GKP Tamiyang dan begitu juga
sebaliknya. Hal ini sungguh-sungguh menciptakan serta mempererat toleransi di
kalangan masyarakat.
Tiga hari mengikuti YIC sungguh semakin memperdalam nilai-nilai toleransi yang telah ada dalam diri saya. Semoga dengan mengikuti YIC ini, saya dapat menjadi agen-agen pembawa toleransi di lingkungan sekitar saya. Terakhir, saya menutup tulisan saya dengan quotes dari Bapak Muhammad Amin yang beliau utarakan sewaktu kami wawancara. "Keyakinan sulit untuk disatukan, tetapi kemanusiaan juga sulit untuk dipisahkan." Quotes tersebut selalu terngiang-ngiang bagi saya karena maknanya yang dalam. Lewat quotes ini, saya berharap bahwa kita jangan sampai memisahkan persaudaraan kita hanya karena agama, tapi marilah kita saling mempererat persaudaraan kita tanpa memandang sekat agama. Salam toleransi!
[1]
https://www.tribunnews.com/nasional/2021/04/06/4-faktor-penyebab-jawa-barat-ranking-1-tempat-pelanggaran-kebebasan-beragama-selama-14-tahun
Comments
Post a Comment